Politeknik Lhokseumawe

Jangan Damai Jadi Semu

penulis: Mashudi SR topik: Aktifitas Masyarakat

ANGIN damai berbuah kebagiaan Martti Ahtisaari, medioator perundingan GAM-RI yang menerima gelar perdamaian dari badan dunia Unesco, namun belum sampai ke bumi Aceh. Ketika mantan Presiden Finlandia itu menerima penghargaan, justru di Aceh makin memanas. Rangkaian kekerasan dengan beragam modus, terjadi silih bergant. Aceh, setiap hari disuguhkan dengan berita perampokan, penculikan, pembunuhan, pembakaran, teror dan intimidasi.

Suasana panas tersebut, seakan menemukan momentumnya bersamaan jelang Pemilu yang tinggal beberapa bulan lagi. Memang, mkanisme demokrasi ini, sering dituding sebagai masa yang berkontribusi terhadap semakin mendidihnya suhu politik. Apalagi Pemilu kali ini akan berbeda dari sebelumnya. Kehadiran partai politik local (Parlok) sebagai peserta menjadikan pertarungan semakin kompetitif. Perebutan suara pemilih yang hanya berjumlah dua jutaan, tidak jarang dilakukan dengan menabrak nilai dan prinsip demokrasi. Padahal, pemilu ini menjadi ujian yang akan menentukan apakah proses transisi dari pertumbahan darah menuju kotak suara berlangsung sukses. Bagi Jack Snyder (2000), adanya pemilu di sebuah wilayah yang baru keluar dari pusaran konflik, adalah pertanda awal wilayah tersebut sedang menuju demokrasi.

Sementara. situasi yang cenderung ke arah desktruktif ini, telah menjadikan proses damai kehilangan subtansinya. Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Sunarko bahkan menyebut perdamaian Aceh masih semu (Serambi Indonesia, 7/10). Masih berada di atas permukaan, belum menyentuh level terdalam dari tahapan mewujudkan perdamaian abadi yang demokratis.

Perlu tahapan

Memutus matarantai kekerasan dan mencabut akar konflik, memerlukan waktu yang panjang, komitmen kuat dan kejujuran dalam memaknai proses yang berlangsung. Keberhasilan penandatanganan nota kesepahaman bersama melalui “pertikaian” di meja perundingan, adalah wujud dari proses panjang tersebut. Para pihak secara sadar melakukan pilihan cerdas dan bermartabat mengakiri pertikaian senjata yang telah memakan puluhan ribu korban manusia. Ini tidak terjadi tanpa ada kejujuran dan keikhlasan dari para pihak terhadap situasi objektif yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Karena itulah, keberhasilan pada tahap peace meaking ini haruslah diapresiasi dengan amat tinggi untuk dan atasnama kemanusiaan. Sejalan dengan itu, proses implementasi kesepahaman berlangsung sukses tanpa gejolak. Ini menandai keberhasilan melalui satu tahap mewujudkan damai di Aceh. Bahwa rasa saling percaya di antara para pihak mulai terbangun, seiring dengan menurunnya sikap saling curiga.

Diusia damai yang ketiga tahun, Aceh sedang berada di tahap peace keeping. kiranya belumlah cukup untuk menyatakan tahap ini usai dan menanjak pada tingkat berikutnya, yakni peace building. Tingginya intensitas kekerasan yang terjadi, menjadi alat ukur bahwa fase ini masih memerlukan waktu yang relatif lama untuk berakhir.

Kapan waktu yang tepat untuk mengakhiri tahap peace keeping tersebut? Bagi sebagian pihak, Pemilu 2009 dijadikan terminal akhir dari tahap ini. Sekaligus titik awal untuk membangun perdamaian dengan mengisi, memperkuat dan menjaganya menuju keabadian. Pada masa ini sejatinya kekerasan hanya ada dalam lembar-lembar sejarah nan kelam yang menjadi bukti bahwa perilaku tidak berperikemanusiaan pernah terjadi di bumi Serambi Mekkah. Semua harapan itu, bisa terwujud manakala pesta demokrasi berlangsung secara jujur, adil, langsung dan rahasia, tanpa gejolak apalagi ada darah yang tumpah.

Jika demikian, pesta lima tahunan ini perlu dijaga agar berlangsung meriah, layaknya sebuah pesta mewah. Tidak ada keributan apalagi aksi kekerasan. Tidak aksi yang menjadikan Pemilu selalu menjadi kuda tunggangan yang amat menarik untuk melakukan aksi-aksi yang berlawanan dengan akal sehat. Dengan begitu, peserta Pemilu sejatinya saat ini sudah melakukan kegiatan yang membawa pesan damai, bukan pesan politik semata yang sarat dengan potensi konflik. Sehingga bisa mengeliminir berbagai aksi kekerasan yang oleh Pangdam Iskandar Muda menyebutnya sebagai indikator perdamaian Aceh masih semu.

Pernyataan Mayjen TNI Sunarko ini satu sisi mengingatkan kita untuk lebih serius memikirkan masa depan perdamaian Aceh. Sisi lain, perlu pula dicermati untuk kemudian diamini secara hati-hati karena beberapa alasan. Pertama pernyataan itu, mengesankan perundingan yang dilakukan tiga tahun lalu yang semakin memperkuat sosok mantan presiden Finlandia sebagai tokoh perdamaian dunia, tidak berangkat dari kesadaran, kejujuran dan keiklhasan para pihak.

Kedua, dengan begitu, berbagai hal yang berhasil dicapai, sebagai wujud dari implementasi nota kesepahaman, tidak memberi dampak positif bagi proses damai dan transisi demokrasi yang sedang berlangsung.

Ketiga, pernyataan itu akan bisa menjadi legitimasi bagi TNI melakukan pendekatan-pendekatan militer “membunuh” bibit konflik yang sesungguhnya hal itu tidak lagi diperlukan. Biarlah peran-peran polisionil yang melakukan kerja-kerja menetralkan aksi-aksi yang ada. Keempat, ini bisa pula berarti peringatan bagi kelompok sipil, bahwa situasi aceh hari ini bagaikan api dalam sekam, bahaya laten yang akan lahir dalam wujud konflik yang lebih dahsyat.

Perlu perawatan

Lepas dari statement Mayjen TNI Sunarko tersebut, usia perdamaian Aceh harus tetap dijaga dan dirawat. Terlalu mahal harga yang diperlukan untuk membiarkan bayi perdamaian ini tersakiti.. Ribuan anak kehilangan ayah dan ibu, ribuan perempuan menjadi janda, ribuan rumah hangus terbakar, ribuan anak nanggroe harus kehilangan sumber penghidupan, puluhan ribu lainnya harus meretas jalan gelap meraih masa depan karena sekolah mereka dibakar. Wujud dari perawatan tersebut adalah mengisinya dengan aktifitas yang memperkuat sendi-sendi perekonomian masyarakat, pemenuhan tuntutan keadilan hukum dan politik, ketersediaan pelayanan publik yang humanis, kesehatan dan pendidikan murah dan berkualitas

Berakhirnya konflik berkepanjangan sepatutnya melahirkan rasa kebersamaan dalam penderitaan, dan menatap pada satu tatapan yang sama akan masa depan Aceh yang bermartabat dan demokratis. Semangat ini pula yang akan menjadi palu godam menghadapi setiap upaya merusak fondasi dan struktur perdamaian Aceh yang sedang dibangun. Dengan demikian, perdamaian ini tidak lagi menjadi semu, tetapi selalu mekar dan bermakna bagi peradaban Aceh.

*) Penulis adalah Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Aceh

A man who never enjoyed school or learning spy apps for android by https://topspyingapps.com/ by conventional means

QA & Monitoring and Evaluation